Friday, 19 February 2016



Bagi anda yang sedang mempersiapkan pernikahan, bukan hanya pertemuan dengan vendor yang penting untuk dilakukan. Tapi ada lagi satu hal yang banyak dilupakan para calon pengantin yaitu pemeriksaan laboratorium pra-nikah! 
Nah tapi ternyata banyak yang tidak kita ketahui tentang tes pra-nikah ini lho! 
Beruntungnya, hari ini Globalab akan membagikan ilmunya mengenai betapa pentingnya pemeriksaan laboratorium sebelum menikah. 
Yuk langsung baca dibawah!

Masalah kesehatan merupakan hal penting agar tujuan dari pernikahan untuk tercipta keluarga yang sehat dan mempunyai keturunan bisa terwujud. Konsekuensi dari pernikahan juga dapat berakibat penularan penyakit dari masing-masing individu. Bukan saja penyakit infeksi, tetapi juga penyakit non infeksi. Oleh karena itu masalah kesehatan seputar  pernikahan harus menjadi perhatian. 

Betapa ironisnya jika kita menemui kejadian pada pasangan yang pada tahun-tahun pertama pernikahannya ternyata suami atau istri mempunyai penyakit kronis seperti penderita HIV AIDS atau hepatitis B kronis bahkan sampai sirosis hati yang tidak diketahui sebelum pernikahan terjadi. Yang menjadi persoalan adalah kalau hal ini tidak diketahui dari awal, sehingga apa yang terjadi jika sumber ini berasal dari suami maka akan menulari istri dan selanjutnya akan menulari anak-anaknya. Di sisi lain kalau hal ini sudah diketahui lebih awal pengobatan dapat dilakukan, dan risiko penularan dapat dicegah.

Pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan pasagan sebelum menuju jenjang pernikahan diantaranya adalah: 

1. Pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL) meliputi pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, lekosit, trombosit, pemeriksaan morfologi eritrosit, laju endap darah (LED), dan hitung jenis. Pemeriksaan ini harus dilakukan calon mempelai pria dan wanita.

Data darah perifeR lengkap (DPL)  ini penting, karena Hb yang rendah perlu dievaluasi karena dari situ bisa telusuri apakah ini karena Thalassemia atau bukan. Walaupun jarang, penyakit ini dapat diturunkan kepada anak-anak kelak yang dilahirkan dari pasangan tersebut. Selain itu, hemoglobin yang rendah pada calon ibu akan berdampak buruk, baik bagi kesehatan ibu atau janin jika terjadi kehamilan nantinya. 

2. Pemeriksaan golongan darah dan rhesus.
Rhesus adalah sebuah penggolongan atas ada atau tiadanya substansi antigen-D pada darah. Rhesus positif berarti ditemukan antigen-D dalam darah dan rhesus negatif berarti tidak ada antigen-D. Kebanyakan warga bangsa Asia memiliki rhesus positif (+), sedangkan kebanyakan warga bangsa Eropa memiliki negatif (-). Banyak pasangan suami istri tidak mengetahui rhesus darah pasangan masing-masing. Padahal, jika rhesus mereka bersilangan, bisa mempengaruhi kualitas keturunan. Jika seorang perempuan (rhesus negatif) menikah dengan laki-laki (rhesus positif), bayi pertamanya memiliki kemungkinan untuk memiliki rhesus negatif atau positif. Jika bayi mempunyai rhesus negatif, tidak ada masalah. Tetapi, jika bayi memiliki rhesus positif, masalah mungkin timbul pada kehamilan berikutnya. Bila ternyata kehamilan yang kedua merupakan janin yang memiliki rhesus positif, kehamilan ini berbahaya. Karena antibodi antirhesus dari ibu dapat memasuki sel darah merah janin. Sebaliknya, tidak masalah jika perempuan memiliki rhesus positif dan lelaki rhesus negatif. Apabila ibu bergolongan darah O sedangkan bayi bukan bergolongan darah O adalah salah satu faktor resiko jaundice atau kuning pada bayi (ABO Incompatibility). Bila diketahui janin memiliki rhesus positif (+) sedangkan ibu memiliki rhesus negatif (-), akan menimbulkan inkompatibilitas rhesus yang bisa mengakibatkan kematian pada janin. Dengan mengatahui rhesus sebelum hamil, dokter dapat segera mengatasinya.

3. Pemeriksaan Glukosa Puasa
Pemeriksaan glukosa puasa berguna untuk mendeteksi adanya penyakit diabetes melitus yang cenderung dapat diturunkan kepada janin dapat menimbulkan masalah selama persalinan. Selain itu penyakit diabetes melitus merupakan salah satu faktor yang mempegaruhi kesuburan

4. Pemeriksaan HIV, HBsAg dan anti-HCV
Menurut data WHO, saat ini terdapat 4,1 juta jiwa di dunia yang terinfeksi HIV, dimana 95% diantaranya berada di negara berkembang seperti sub-sahara Afrika dan Asia Tenggara. Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan RI, pada tahun 2012 ditemukan 21.511 penderita HIV, dan jumlah ini jauh lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Untuk penderita Hepatitis B saat ini diperkirakan sebanyak 1,8 milyar manusia di dunia, dengan 350 juta jiwa sudah mengalami infeksi kronis;
Pemeriksaan virus hepatitis B dengan pemeriksaan HbSAg dan virus hepatitis C dengan pemeriksaan anti HCV. Ibu penderita HbSAg+, selain berpotensi menularkan hepatitis kepada suaminya juga bisa menularkan kepada anaknya. Terdapat beberapa kasus usia muda baru beberapa tahun menikah sudah menderita sirosis hati akibat perjalanan penyakit dari hepatitis kronis. Sirosis merupakan risiko seseorang untuk susah mendapatkan anak. Oleh karena pemeriksaan skrining HbSAg pranikah menjadi penting apalagi pada seseorang dengan riwayat sakit kuning sebelumnya atau dengan keluarga sakit kuning bahkan sudah diketahui menderita hepatitis kronis.

Jadi, sudah tahu kan pentingnya pemeriksaan laboratorium sebelum menikah?

Globalab menyediakan PAKET HEMAT PRA NIKAH untuk anda dan calon pasangan anda!

Hubungi

Lab. Global
Jl.A.Yani Km 6,6 No.55 Kertak Hanyar
Kab.Banjar
Telp 0511.3276533
 
#pemeriksaanlaboratoriumbanjarmasin
#pemeriksaanlabbanjarmasin 
#ceklabbanjarmasin 
#ceklaboratoriumbanjarmasin
#cekupbanjarmasin
#cekkesehatanbanjarmasin
#medicalchekupbanjarmasin












Popular Posts

Kunjungi Web Official GOLAB