Wednesday, 17 February 2016


Berharap sembuh ketika berobat ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas, klinik maupun rumah sakit, sebagian orang justru terserang infeksi. Penularan infeksi di fasilitas kesehatan dapat dengan mudah terjadi melalui interaksi langsung dan tidak langsung (kontak fisik, udara) antara petugas medis kepada pasien, pasien satu kepada pasien lain, maupun pasien kepada pengunjung. 

Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi nosokomial diantaranya adalah suntikan yang tidak aman dan seringkali tidak perlu, penggunaan alat medis tanpa ditunjang pelatihan maupun dukungan laboratorium, standar dan praktek yang tidak memadai untuk pengoperasian bank darah dan pelayanan transfusi, penggunaan cairan infus yang terkontaminasi, khususnya di rumah sakit yang membuat cairan sendiri, meningkatnya resistensi terhadap antibiotik karena penggunaan antibiotik spektrum luas yang berlebih atau salah dan berat penyakit yang diderita.

Tangan merupakan perantara yang paling sering dijumpai dalam penularan patogen atau penyakit dari perawatan kesehatan. Oleh karena itu, diwajibkan menjaga kebersihan tangan mereka untuk menghindari penularan patogen terkait perawatan kesehatan dari satu pasien ke pasien lain melalui tangan petugas kesehatan.

Kejadian nosokomial rentan terjadi pada pasien yang baru menjalani operasi melalui alat, seperti kateter dan selang infus. Selain karena alat yang tidak steril, pasien bisa terinfeksi dari pengunjung atau petugas yang tengah sakit. Infeksi nosokomial biasanya terjadi setelah 48 jam (dua hari). Misalnya, ada pasien anak dirawat karena diare, kemudian pada hari ketiga tiba-tiba muncul infeksi baru, seperti infeksi paru.
 
Setiap pekerja perawatan kesehatan atau orang yang terlibat dalam perawatan pasien perlu khawatir tentang kebersihan tangan mereka, termasuk dokter. Langkah yang dilakukan untuk menjaga kebersihan tangan dapat melindungi pasien terhadap kuman berbahaya dilakukan pada tangan atau hadir di kulitnya sendiri. Selain itu, dapat melindungi dirinya sendiri dan lingkungan kesehatan dari kuman berbahaya.

Selain mencuci tangan, langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi nosokomial adalah menggunakan alat pelindung diri untuk menghindari kontak dengan darah atau cairan tubuh lain. Menggunakan alat pelindung diri bertujuan untuk mencegah penularan berbagai jenis mikroorganisme dari pasien ke tenaga kesehatan atau sebaliknya, misalnya melaui sel darah, cairan tubuh, terhirup, tertelan dan lain-lain. Manajemen alat tajam secara benar untuk menghindari resiko penularan penyakit melalui benda-benda tajam yang tercemar oleh produk darah pasien pun harus dilakukan. Terakit dengan hal ini, tempat sampah khusus untuk alat tajam harus disediakan agar tidak menimbulkan injuri pada tenaga kesehatan maupun pasien. Melakukan dekontaminasi, pencucian dan sterilisasi instrumen dengan prinsip yang benar. Tindakan ini merupakan tiga proses untuk mengurangi resiko tranmisi infeksi dari instrumen dan alat lain pada klien dan tenaga kesehatan. Terakhir, menjaga sanitasi lingkungan secara benar. Sebagaiman diketahui aktivitas pelayanan kesehatan akan menghasilkan sampah rumah tangga, sampah medis dan sampah berbahaya, yang memerlukan manajemen yang baik untuk menjaga keamanan tenaga rumah sakit, pasien, pengunjung dan masyarakat.

Popular Posts

Kunjungi Web Official GOLAB